kompilasi pemaknaan : jadilah orang baik

 

hari-hari ini kita melihat ada banyak sekali orang dengan beragam penampilan, sikap, tingkah laku bahkan hal-hal lain yang lebih mendasar seperti prinsip hidup, nilai yang dipercaya, dan sebagainya.

keragaman yang begitu hebat, perbedaan yang sedemikian rupa.

begitu banyak sampai kadang kita jadi lantas melihat dunia tidak lagi hitam-putih.

kita lantas melihat warna-warni lain yang ternyata menawarkan keindahan yang bahkan melampaui warna yang sebelumnya kita kenal sejak lama.

warna-warna yang lantas mengajak kita untuk melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.

_____

dalam perjalanan, kita pun juga menyadari bahwa setiap kita memiliki rute yang istimewa.

kita bisa saja membisikkan tujuan utama, saling berbagi arah lalu merasa bahwa ternyata tujuannya serupa,

tapi bagaimana kita mencoba menjemputnya, bagaimana orang lain mendekatinya, sungguh,

bukan perkara sederhana.

kita mulai menyadari bahwa masing-masing kita sungguh begitu berharga.

 

kalimat yang keluar lalu perlahan mulai berubah,

bukan lagi perkara soal aku benar dan kamu salah,

bukan pula soal siapa yang menjadi akar masalah,

telunjuk kita lalu perlahan mulai berani kita kendalikan,

mulut kita lalu perlahan semakin berhati-hati sebelum mengutarakan.

kita mulai berubah menjadi orang-orang yang lebih adil sejak dalam pikiran.

 

_____

dengan modal kepekaan yang tiba-tiba meningkat,

kita lalu melihat berbagai kenyataan sehari-hari yang sungguh menyentuh hati.

berjalanlah malam hari di sekitar jalan utama Margonda, akan kita dapati gerobak-gerobak lengkap dengan keluarga yang mencari alas istirahat sekaligus tempat yang bersedia dijadikan “rumah” sementara, hanya sampai pagi karena saat matahari mulai meninggi, mereka pun sadar bahwa hari yang berat harus kembali mereka jalani.

berjalanlah malam hari disekitar akses tol jembatan Cibubur, orang-orang tua yang sebagian besarnya adalah pria membawa cangkul serta ember/serokan pasir, mereka yang mencari penghidupan dari jasa menaik-turunkan pasir galian, mengharapkan truk-truk besar yang lewat membunyikan klakson khasnya untuk mengajak mereka “bekerja” bersama.

berjalanlah dini hari, pukul dua atau tiga pagi disekitar Pasar Senen yang baru saja terbakar, masih dapat kita nikmati jajanan pasar, kue-kue khas dengan jenis yang beragam, lengkap dengan hiruk-pikuk tawar-menawar, angkut-mengangkut, mencari margin keuntungan lima ratus rupiah dengan lelah para pedagang yang mulai membuat kue tersebut tentu setidaknya sejak sore hari,

berjalanlah dini hari, pukul dua atau tiga pagi disekitar Mangga Besar, pusat jual-beli hasrat yang menyediakan aneka suku bangsa, lengkap dengan berbagai imajinasi liar yang siap untuk diwujudkan segera.

berjalanlah diri hari, pukul dua atau tiga menuju Puncak Bogor, saat dingin yang berlapis justru jadi penyemangat para penyedia villa untuk menyewakan ruangan lengkap dengan “selimutnya”.

berjalanlah saat shubuh, pada stasiun-stasiun khas kawasan padat penduduk, Bogor, Bojong, Depok Lama, hiruk-pikuk para pekerja dengan wajah mengantuk diiringi dengan adzan shubuh yang bersahutan dari satu masjid ke masjid lain, disepanjang perjalanan, menggadaikan ibadah demi mendapatkan ruang yang lebih lega untuk sedikit menambah waktu melepas lelah.

 

mari coba mulai berjalan dengan terlebih dahulu menghidupkan perasaan kita.

menyalakan nyali, memantik api jiwa yang menghangatkan hati,

membuat kita mampu merasakan dan menyadari segala sesuatu yang terjadi seutuhnya. membuat kita memiliki kesadaran penuh atas tiap peristiwa yang ada.

 

lalu barulah kita mulai melihat pagi hari dengan cara yang berbeda.

saat banyak kendaraan mulai melintasi batas-batas aturan di jalan, melawan arah bersama-sama dengan begitu mudah.

saat tukang sayur keliling mulai menawarkan daging segar, cabai merah, dan sebagainya. saat ibu-ibu kita mulai berkumpul membeli sayur lalu mulai membicarakan kegantengan maupun kebusukan calon pemimpin daerahnya.

bagaimana siang hari?

saat abang susu murni dengan sepeda khas berkeliling lengkap bersama suara rekaman kaset yang diulang-ulang, saat pedagang ember, tape uli, dan aneka jualan lain yang silih berganti bersahutan, mencari sedikit lebih atas harga modal yang juga sudah diatur begitu sempit oleh pemodal.

ah

rasanya, ada begitu banyak hal istimewa yang kita lewatkan dengan terlalu sederhana.

karena mereka seolah terjadi berulang kali, kita lantas mulai coba membaca pola, menerka tanda, namun seringkali lupa untuk mencari makna.

kita kehilangan makna dan kita tidak merasakan apa-apa.

 

____

dunia yang tidak lagi hitam-putih membuat kita lebih berhati-hati dalam menentukan warna yang ingin kita pilih.

perbedaan atas masing-masing kita, memunculkan kesadaran akan pentingnya menghargai serta saling menjaga diri,

jangan sampai berlebihan atas apapun, termasuk kecintaan dan kebencian, utamanya terhadap segala ciptaan Tuhan.

kesadaran menjadi sebuah kunci,

sadar bahwa diri ini memiliki peran dan kontribusi, sekecil apapun, bahkan saat kita hanya mendiamkan, sejatinya itu adalah tanda tidak hadirnya keberanian, atau setidaknya begitu kecilnya kepekaan.

memiliki kesadaran diri artinya memiliki keberanian sekaligus kepekaan untuk bisa dengan cermat mengetahui kapan saat yang tepat untuk melangkah atau kapan saat yang tepat untuk berhenti, bahkan berganti arah.

kesadaran diri akan membuat kita tidak terjebak pada dilema perasaan maupun ucapan dari sekitar kita, yang tentu tidak pernah bisa kita kendalikan sepenuhnya.

sadar bahwa bahkan saat diri kita telah berusaha memberikan yang terbaik yang kita bisa, tetap ada kemungkinan bahwa apa yang kita lakukan tetap dipandang oleh beberapa orang sebagai suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan mereka.

maka barangkali kesadaran seperti itulah yang kelak akan mengantarkan kita pada kesimpulan ;

 

jadilah orang baik,

orang-orang yang mencintai karena memang ingin mencintai,

bukan karena rasa sepi, haus akan perhatian, ataupun karena takut berjalan seorang diri.

 

jadilah orang baik,

orang-orang yang bergerak karena memang ingin bergerak,

karena hati yang bergetar dan tidak rela melihat sesuatu terserak,

 

jadilah orang baik,

orang-orang yang bersedia merendahkan hatinya demi senyuman sekitar,

rela mengorbankan kenyamanan demi kebersamaan, turut merangkul mereka yang tersebar,

 

jadilah orang baik,

yang memberikan bantuan tanpa banyak perhitungan,

mereka yang menyadari bahwa tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan, mereka yang menyadari bahwa hidup bukan hanya soal pencapaian diri apalagi soal kepuasan yang tidak kenal kata henti.

 

jadilah orang baik,

yang menerima berbagai kepahitan dengan tetap memiliki kepercayaan akan janji kebaikan di masa depan,

yang menerima penolakan, atau menolak penerimaan dengan alasan terbaik dan tidak berbicara tentang ego masing-masing,

yang menerima dan menolak karena memiliki visi yang melampaui segala perasaan hari ini,

 

jadilah orang baik,

yang mengantarkan nasehat maupun hikmah dengan cara terbaik yang bisa mereka berikan, mereka yang rela menyisihkan waktu, tenaga bahkan sumberdaya lain yang mereka punya hanya untuk berusaha memperbaiki orang lain,

 

jadilah orang baik,

yang melihat setiap manusia sebagai sebuah kesempatan dan harapan untuk menjadi cahaya, yang melihat terang dalam gelap gulita, yang mampu memisahkan dengan bijaksana, dimana yang harus saya benci, dimana yang harus tetap saya cintai.

 

________

catatan ini rencananya akan terus ditambah seiring berjalannya waktu.

foto-foto yang ada diatas tidak selamanya menguatkan kalimat yang ada, meskipun begitu, saya tetap merasa ia layak untuk dikenang kembali hari ini.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *