Merangkul tanpa terbentur

Foto Ihkam Aufar Zuhairi.

Foto Ihkam Aufar Zuhairi.

Foto Afkar Vyan Tashwirul.Foto Ihkam Aufar Zuhairi.

Foto Ihkam Aufar Zuhairi.

Foto Muhamad Nuzul.

Foto Ihkam Aufar Zuhairi.

Foto Faathir Muhammad.

Foto Ihkam Aufar Zuhairi.

 

 

berapa banyak “keluarga” yang ingin kita rangkul dalam hidup kita?

“keluarga” yang Tuhan pertemukan lewat skenario-skenario terbaikNya.

 

entah saat kita tergabung dalam suatu kepanitiaan,

entah saat kita berada dalam satu komunitas yang memiliki minat serta kesamaan,

entah saat kita masuk dalam suatu “ruangan”, “berkenalan”, “nyaman”, lalu mulai saling “menyeimbangkan”.

 

sepertinya memang ada baiknya kita dapat melihat semua kesempatan yang ada sebagai bagian dari cara Tuhan mendekatkan kita pada segala rencana terbaikNya,

connecting the dots, mencoba melihat setiap “titik” yang ada dalam perjalanan hidup kita sebagai bagian dari satu kesatuan yang sejatinya akan mengantarkan kita pada versi terbaik dari diri kita.

pertemuan dengan “keluarga” barangkali adalah salah satu “titik” dari sekian banyak “titik” yang perlu dikelola dengan baik.

kadang didalamnya tidak selalu penuh kebaikan, kadang kita juga gagal dalam memaknai keadaan, atau seringkali belum berhasil juga menerjemahkan tiap gejolak yang ada dengan bijaksana,

dalam satu kumpulan yang kita sebut “keluarga”,

kita ternyata masih sering berpraduga, tak jarang pula dalam perjalanan kita lantas meragukan “keluarga” kita,

mempertanyakan kembali tujuan, bahkan cara yang awalnya telah kita sepakati bersama.

kita juga pernah hampir menyerah, merasa kehilangan arah, lalu tak seorang pun disana, yang katanya “keluarga” ternyata bisa menyelamatkan kita, memberikan arahan dan menjaga kita agar tidak tersesat terlalu lama.

faktanya, kita dan “keluarga” kita amat penuh kekurangan.

tak jarang pula ternyata berbagai kesalahan yang ada didalam “keluarga” terdiri atas kontribusi kita didalamnya.

 

karena tidak semua urusan perlu diceritakan saat itu, karena tidak semua cerita perlu kamu tahu. maka luaskan prasangka baik, percaya bahwa diri ini sesekali perlu belajar menahan diri, membiarkan cerita berjalan tanpa banyak prasangka.

(kalimat dari sahabat ditumblr yang disempurnakan)

 

jika kita menyayangi seseorang, kita akan sebisa mungkin mencegah dirinya agar jangan sampai terjadi sesuatu hal kurang baik terjadi pada dirinya, jika kita memang merasakan kekuatan “keluarga”, kita akan jadi salah seorang anggota yang barangkali akan paling rewel lagi bawel dalam tiap langkah geraknya, bukan tidak mungkin ada anggota lain yang lantas jadi merasa risih, merasa tidak nyaman, bahkan merasa “diserang” atas kehadiran kita disana.

ekspresi cinta dan kasih sayang inilah yang lantas memerlukan seni untuk menerjemahkannya secara tepat,

sebab kita dan dia kadang memiliki cara yang berbeda dalam menerjemahkan rasa.

apa yang bagi kita dianggap sebagai suatu hal yang manis, bisa saja dipandang sebagai suatu hal yang terlalu asin,

apa yang kita rasa ada sebuah hal yang cukup pahit, bisa saja dipandang yang lain sebagai suatu yang asam saja, suatu rasa yang bagi kita perlu dihindari, tapi bagi yang lain ternyata dipandang perlu asal sesuai dengan proporsi.

kita perlu lagi-lagi terus belajar untuk merangkul,

sebab tidak semua orang ingin disentuh dengan cara kita menyentuh,

karena semua orang memiliki batas-batas tersendiri yang kadang tidak tampak dipermukaan,

karena semua orang memiliki jarak yang sengaja diciptakan demi mendapatkan kenyamaan serta dapat tetap menjadi diri mereka masing-masing, lengkap dengan topeng serta bedak yang melekat.

karena bahkan dalam rangkulan sangat mungkin terjadi benturan, sebab menjadi apa adanya bukan lantas membuat kita bebas melakukan semuanya sesuka kita,

sebab diri kita tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari “keluarga” kita

sebab didalamnya telah ada jejak langkah, tetes kenangan, serta harapan serta janji masa depan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *