apa yang menjadikan mahasiswa berharga?

13920390_10154431695099490_6669349205752013377_o.jpg

apakah jumlah adik yang berhasil ia kader meneruskan tahta, sejumlah manusia yang akhirnya memiliki cara pandang, idealisme yang serupa?

apakah lengkapnya koleksi kartu, peliharaan dalam satu permainan, jejeran smartphone atau justru audio mobil modifikasi yang menghabiskan puluhan juta?

apakah angka yang tertera di rekening panitia yang berhasil didapatkan lewat jerih payah marketing call tak berkesudahan?

apakah teriakan hidup-hidup-hidup yang bersautan, tak berkesudahan seantero jalanan?

apakah gelora semangat yang menembus nyali-nyali ciut para orang tua, mereka yang sedang duduk berkuasa?

apakah analisa tajam nan tanpa beban atas berbagai kondisi terkini, persoalan negeri yang berhasil dikaji lewat serangkaian diskusi panjang siang dan malam?

lantas seandainya ada salah satu yang ternyata jadi jawaban,

apakah itu cukup untuk kita hingga pada akhirnya berani menyebutkan diri kita sebagai seorang mahasiswa?

1 Agustus 2016, sebuah momentum akbar pertama, gong besar pembukaan kegiatan mahasiswa baru Universitas Indonesia 2016 telah terlaksana.

7302. Jumlah mahasiswa baru Universitas Indonesia angkatan 2016.

mutiara Universitas Indonesia.

disanalah kemarin saya untuk pertama kalinya menyapa,

tentu tak banyak yang bisa disampaikan, keterbatasan waktu, agenda yang masih menunggu setelahnya, dan juga memang pada akhir disengaja.

tak banyak kata, cerita yang tersampaikan.

saya mengawali sapaan pagi itu dengan menjelaskan visi dari OKK UI 2016.

momentum perayaan insan akademis menuju kontribusi tanpa batas

penjelasan sederhana tentang makna kontribusi tanpa batas, bahwa ditempat inilah kalian bisa jadi apa saja, sepanjang itu baik dan membawa kebaikan, kejar dan perjuangkan.

sapaan berlanjut pada cerita dua sosok yang sengaja saya hadirkan sebagai contoh bagi laki-laki dan perempuan,

mereka adalah Sri Mulyani dan Eyang Habibie, dua sosok inspiratif yang sebetulnya telah coba diundang oleh kami namun memang karena tidak bertemunya kesempatan maka tidak bisa terjadi,

Sri Mulyani, bagaimana beliau kembali ke negeri ini, meninggalkan beragam keidealan IMF hanya demi sebuah jabatan yang tentunya akan lebih “panas” dan “bergejolak”,

Eyang Habibie, bagaimana beliau rela, tetap bertahan, dengan kewarganegaraan Indonesia, padahal negeri itu telah menawarkan tawaran gila yang luar biasa,

singkatnya, saya coba hadirkan sejenak sosok yang harusnya bisa membuka pandangan mereka, siapa sesungguhnya mereka yang layak disebut alumni dari kampus bernama Universitas Indonesia.

sapaan lantas saya tutup dengan penjelasan tentang makna mutiara.

mengapa mahasiswa baru Universitas Indonesia mendapatkan panggilan mutiara.

bagaimana mutiara tercipta merupakan awal dari penjelasan, bagaimana justru dengan makin dalamnya lautan akan menciptakan tekanan yang membuat bentuk mutiara semakin sempurna.

dan saya berani berkata pada momen itu bahwa sejatinya

“kalian semua adalah mutiara!

orang-orang terpilih dari segenap pelosok desa, penjuru kota,

orang-orang yang telah melewati serangkaian proses panjang yang luar biasa!

namun bukan sekadar itu yang kami harapkan ada pada kalian,

karena kalian mutiara maka keindahan bukan semata karena kalian ada,

tapi indahnya mutiara adalah karena kalian berhimpun, karena kalian bersama-sama.

maka jadikan rangkaian KAMABA UI kali ini, mulai dari paduan suara, PSAU, OKK UI, PSAF, sebagai sebuah rangkaian, momentum bagi kalian semua, turning point, titik dimana kalian menyadari bahwa menjadi mahasiswa adalah soal tentang karya nyata,

tahun ini OKK UI mengusung konsep mentoring dimana kalian akan langsung disatukan dengan kelompok yang begitu beragam,

manfaatkan betul kesempatan itu,

dan mutiara Universitas Indonesia menjadi berharga karena kalian bergerak bersama-sama,

maka sadari dan pahami mulai detik ini bahwa kalian semua adalah mutiara,

lihat kanan-kiri kalian,

rasakan semangat itu,

berkenalanlah dengan mutiara dari fakultas yang berbeda, dari rumpun yang berbeda,

berkenalanlah dengan mereka yang berbeda suku, berbeda agama,

rasakan bahwa perbedaan adalah kekuatan!

sapaan itu saya akhiri.

dilanjutkan oleh Andy, lalu ditutup oleh pekik Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Shendy,

di momen ini jugalah pertama kalinya kami memperkenalkan cara baru menggemakan pekik Universitas Indonesia,

dengan mengawalinya dengan kutipan lagu hyme UI,

…dan mengabdi Tuhan…

…..dan mengabdi Bangsa…..

……..dan Negara Indonesia……

UI!

Kepal jari jadi tinju!

UI UI kampusku!

Bersatu almamaterku!

UI!

maka menjawab dua poin besar, apa yang menyebabkan mahasiswa begitu berharga, dan apa yang membuat itu cukup untuk dijadikan alasan bagi seseorang menyandang titel mahasiswa,

adalah karena mereka berbeda, istimewa, dan mereka bergerak bersama-sama.

buang jauh titel itu seandainya kelak ketika bertemu dengan perbedaan mereka justru yang berada paling depan meruncingkan keadaan,

buang jauh sebutan kehormatan itu jika kelak ditemui keadaan bahwa satu kelompok merasa lebih tinggi dibandingkan yang lainnya,

buang jauh mahasiswa bila nanti ditemui orang-orang hebat yang bergerak sendiri-sendiri, berjuang mati-matian sendirian bukanlah cara mahasiswa, bukan seorang mahasiswa,

kita berharga sebagai mahasiswa karena kita berbeda dan kita bergerak bersama-sama.

terus mencari dan mempertahankan kebenaran.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *