Ulang Tahun Abi

SONY DSC
tulisan di lembar pengantar disertasi Abi

 

memulai tulisan ini tepat pukul 00.40 ditanggal 25 Mei 2016. barangkali, inilah momen seorang anak pertama akhirnya memberanikan diri, setelah sebelumnya mengumpulkan keberanian. dramatis, tapi itulah yang terjadi.

aku memanggil sosok itu Abi.  Ayah mungkin lebih sering terdengar tapi ya, Abi, adalah panggilan yang entah sejak kapan tersemat pada dia. sulit sejujurnya menjelaskan bagaimana Abi, yang jelas dari deheman suara, batuk yang dia tahan, atau bahkan sesimpel gaya ketika berbicara, dengan mudah aku akan mampu mengidentifikasinya.

2 hari yang lalu, tanggal 23 Mei, Abi ulangtahun. tak bisa hadir atau mengucapkan secara langsung karena tepat dihari yang sama ada welcoming staff OKK UI 2016 dimana aku menjadi ketuanya.

sejujurnya, Ummi pun sudah mengingatkan sehari sebelumnya, tapi lagi-lagi, butuh waktu untuk terlebih dahulu memikirkan lalu mengumpulkan keberanian.

mungkin banyak dari kalian yang akan bertanya, apa susahnya?  terlebih bagi seorang aku yang sebetulnya cukup santai dan supel dalam membawa suasana, tapi jujur, ini berbeda.

___________

SONY DSC
Abi, Faza dan Zahrin

barangkali cerita bisa berangkat dari hari ketika Faza, adik pertamaku ulang tahun. singkatnya, aku berikan Faza hadiah, tapi tiba-tiba, Zahrin adik kedua menangis keras, ternyata dia juga ingin diberikan hadiah, singkatnya, budaya memberikan, atau sesederhana merayakan ulang tahun, bukanlah budaya yang akrab di keluarga.

justru selepas momen itulah, beberapa hal berubah.

Ummi bahkan seingatku pernah membuat dan membacakan puisi khusus untuk Zahrin, dan jujur saja bahkan di momen itu aku juga sempat cemburu.

maka sungguh cerita singkat diatas semoga bisa sedikit menggambarkan bagaimana sulitnya menembus hal-hal kultural di keluarga, entah karena apa, yang kutahu, latar belakang keluarga yang cukup kuat dalam memegang agama, ditambah fakta bahwa Abi bukanlah sosok yang gemar bercerita, membuat hal-hal seremonial terasa begitu asing.

seingatku pun, aku baru pertama kali dirayakan ulang tahun oleh teman-teman SMP dulu di kelas satu, dikerjain habis-habisan, diakhirnya aku justru menangis karena terharu. ahaha..

mungkin jika hanya sekedar membaca cerita singkat diatas, dingin lagi kaku adalah dua sifat yang tepat untuk menggambarkan, tapi justru disinilah aku merasa perlu memberikan tambahan penjelasan.

______

ada banyak perubahan yang terjadi, dan Abi, dalam diamnya, dalam heningnya, aku sendiri merasakan bagaimana sesungguhnya dia begitu luarbiasa coba mengungkapkan kasih sayangnya kepada kami.

aku bahkan sampai pada titik merasa, bahwa “ekspresi cinta dan sayangnya orangtua memang unik lagi istimewa, kadang memang tidak sesuai dengan apa yang selama ini kita selaku anak harapkan, kadang justru ekspresi mereka adalah hal-hal yang dimata kita terlihat konyol dan aneh, maka sungguh memerlukan kedewasaan untuk memahaminya, untuk memaknainya.”

yang masih hangat misalnya, Abi ada raker di Jakarta, harus memberikan arahan jam delapan malam tepat,  dan posisinya Abi memang sedang disana serta harus menginap sekian hari, tapi tiba-tiba iseng saja aku pulang, tentu dengan lapor terlebih dahulu secara singkat “Mas Auf pulang ya, kangen”.  dan akhirnya, tanpa banyak kata pertemuan singkat dan sederhana dari jam lima sampai jam tujuh tercipta. hanya dua jam kebersamaan karena setelah itu Abi langsung kembali lagi ke tempat rakernya.

atau gaya abi yang tidak pernah menolak ketika misalnya aku mengajukan permintaan, tanggapan khasnya “hemm.. bagus..”  “ya.. adalagi?” atau “bilang Ummi dulu”, belum dengan gaya khas lain yang dalam diam ternyata merencanakan banyak hal, pergi ke Lombok tapi baru bilang H min tiga, berangkat mudik tanpa banyak rencana, yang ternyata dibalik berbagai serba mendadak itu ternyata tersimpan susunan rencana yang matang bahkan sampai lapis dua.

Abi itu auditor sejati. segalanya rapih dan teliti, nyaris semuanya memerlukan bukti. ditangan Abi mobil bisa muat begitu banyak barang untuk mudik, bahkan baris belakang bisa digunakan sebagai kasur untuk tidur bergantian sebagai supir, belum lagi soal penataan tempat-barang dirumah yang tak lepas dari detail khas Abi, belum jika membahas urusan uang yang memang terasa begitu detail, dulu saja ketika membeli laptop, budget yang diberikan hampir persis dengan spesifikasi yang aku tawarkan, tapi tentu karena akupun anak ekonomi, ada sisa yang bisa dimanfaatkan, hehe..

______

SONY DSC
tumben senyum :”)

dari Abi, aku belajar arti perjuangan dan pengorbanan.

pekerjaannya dikantor hampir tidak pernah menjadi konsumsi di rumah, tapi sungguh ketika main ke kantor, tumpukan berkas, telepon yang hampir selalu ditangan, dan bude Yayuk yang sibuk masuk-keluar ruangan untuk mengantarkan atau menyampaikan informasi.  rapat, bertemu. ah entahlah, aku pun kadang berpikir dibandingkan segala bebanku sebagai mahasiswa, dunia paskampus itu memang sungguh begitu besar lagi berat adanya.

dan nyaris tanpa keluhan!

ada momen yang begitu terkenang saat dulu aku ingin masuk SBM ITB, uang kuliahnya yang begitu mahal membuatku ragu lantas bertanya, tapi justru jawaban “urusan Mas Auf itu kuliah, masalah bayaran itu biar Abi yang ngurus..” jadi satu kalimat sederhana yang begitu membekas sampai hari ini.

berbicara mengenai momen, masih ingat juga ketika dulu, entah SD/SMP, momen dimana berbagai keluhanku justru dibalas dengan kutipan ayat ketujuh di surat Ibrahim, “Wa iz ta’azzana rabbukum la’in syakartum la’azidannakum wa la’in kafartum inna ‘azaa_bi lasyadid”. bersyukur Mas, masih banyak yang bisa disyukuri!

_____

SONY DSC
Abi dan Ummi

Abi dan Ummi, karakter keduanya sungguh unik dan berbeda.  tapi poinku disini justru ingin menyoroti hal lain yang mereka berikan kepadaku, kepercayaan.

ada banyak limpahan kepercayaan yang aku rasakan selepas aku masuk ke dunia perkuliahan. dari mulai fasilitas yang “naik level” dari dulunya begitu sulit bahkan untuk sekadar meminta uang jajan lebih, perlahan tapi pasti bertambah kearah lain, bahkan aku pun kadang masih heran pada akhirnya mobil jadi salah transportasi utama yang kugunakan.

yang lebih dari fasilitas bagiku, adalah bagaimana izin, kerelaan mereka terkait berbagai keputusan besar yang aku ambil.  masih ingat juga dengan jelas ketika dulu sempat maju dalam ajang pemira fakultas, meski mengetahui bahwa kemungkinan menang begitu kecil sebab peserta lainnya adalah senior, meski mengetahui bahwa resiko besar maju itu salah satunya adalah akademis yang terkorbankan, meski mengetahui ada biaya yang cukup besar yang harus disiapkan diluar kebutuhan bulanan, semuanya diberikan.

dan sekarang pun, ketika pada akhirnya aku menyatakan keinginan untuk sekali lagi berkontribusi pada level yang lebih besar, dengan konsekuensi yang juga jauh lebih besar, kepercayaan itu diberikan, dan tetap dengan gaya khasnya.

_________

SONY DSC
aku dan Abi ketika wisuda S3 di Unpad

 

aku tahu pasti Abi bukan tipe laki-laki yang romantis, yang gemar memberikan dan diberikan hadiah.  bukan pula sosok yang gemar bersyair atau membaca puisi prosa sastra. tak perlu momen untuk memberikan sesuatu, ketika memang perlu maka saat itu juga ketika memang bisa maka lakukan/kerjakan.

aku pun awalnya menganggap ada atau tidaknya ucapan, toh tidak akan ada banyak hal yang berubah, Abi di kantor pasti juga dirayakan, Ummi pun pasti setidaknya memberikan hadiah, dan entah aku merasa tak akan ada perbedaan berarti antara aku mengucapkan atau tidak, tapi jujur aku pribadi ingat beberapa momen di Siaware, pelatihan untuk mengenal lebih dalam diri sendiri, disana, aku semakin percaya bahwa untuk dapatkan hasil yang kita inginkan, ada berbagai cara yang bisa ditempuh.

tujuan dari tulisan sederhana malam ini tentu adalah ucapan, tapi lebih jauh, semoga lewat tulisan ini, dinding tak terlihat itu bisa semakin luluh, semoga meskipun diskusi atau cerita bukanlah budaya di keluarga, tapi hal itu perlahan bisa hadir dan jadi gaya baru kita.

 

Abi, Selamat ulang tahun ya.  semoga seiring bertambahnya usia, bertambah pula kebijaksanaan yang ada, semakin berkah usianya, semakin hebat dalam memimpin diberbagai tempat,

jaga kesehatan ya Abi, lembur segala macemnya diimbangi sama makan sayur dan buah, Mas Auf juga coba jaga kesehatan kok dari sekarang, jarang banget makan fastfood, olahraga sama Ummi pagi-pagi di hari sabtu, kan udah ada sepeda tuh.

Abi, kalo emang perlu, mobilnya dijual aja, ubah jadi investasi jangka panjang buat adik-adik, bentar lagi Mas Auf juga insya Allah lulus dan bisa bantu nyari uang buat keluarga,

Abi, tetep jaga idealismenya ya, Mas Auf meski gak paham betul gimana kondisinya, tapi yang Mas Auf tau posisi Abi di kantor bukanlah posisi yang sederhana, ada banyak pihak yang bersinggungan, Mas Auf percaya sepenuhnya dan Abi akan selalu jadi panutan Mas Auf dalam memimpin, bimbing Mas Auf juga ya biar bisa sehebat Abi,

Abi, di Siaware, Mas Auf diajarin untuk nyoba selalu jujur dan terbuka, maka sungguh seandainya tulisan ini justru membuat Abi kurang nyaman atau gak berkenan, bilang aja, gampang kok buat ngubah atau ngehapusnya..

Abi, Mas Auf percaya hari-hari kedepan gak akan jadi lebih mudah, karena pohon yang besar akan terus tumbuh dan anginnya juga akan semakin kencang, Mas Auf cuman bilang bahwa ada Mas Auf disini yang insya Allah akan selalu berusaha jadi yang terbaik buat Abi dan Ummi, kalau nanti ada keputusan atau cara yang Mas Auf ambil yang menurut Abi salah jangan ragu ya buat koreksi, sehebat apapun Mas Auf kelak, nasehat dari Abi dan Ummi akan selalu Mas Auf rindukan.

ya Allah, kuatkanlah langkah-langkah Abi, jagalah Abi dan Ummi dengan sebaik-baiknya penjagaan, hamba titipkan kedua orangtua hamba kepadaMu, sebab sehebat apapun hamba coba menjaga, hanya diriMu lah yang mampu menjamin semuanya, bahagiakan keduanya ya Rabb, ampunilah mereka jika terdapat kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja, bimbingkan keluarga kecil kami selalu menuju SurgaMu, izinkanlah aku jadi salah satu alasan mereka Engkau ridhoi masuk dalam SurgaMu, Kumpullah kami kelak di SurgaMu..

 

_____

ini ada sedikit video yang Mas Auf upload di youtube waktu Abi disertasi dulu.  semoga jadi inspirasi buat kita semua..  🙂

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *