percikan perasaan

DSC06113.JPG

Aku hanya ingin mengatakan, bahwa berada di dekatmu membuatku merasa nyaman, dan aku sangat tidak suka akan hal itu. Bukan, bukan karena kamu, semua karena aku. Aku yang masih jauh dari standar, membuatku tak mungkin bisa menjadi tempat bersandar.

Aku memang tidak peka, tapi kepekaan yang kumiliki lebih dari cukup untuk sekadar mengetahui apa yang mestinya ada dalam diriku sebagai modal awal untuk menyatakan perasaanku kepadamu.

Jelas kamu bukan penuntut, dari semua tutur katamu, kamu salah satu dari sedikit sahabat perempuanku yang berhati lembut (walaupun sahabat perempuanku juga sedikit). Namun aku sadar memiliki bukan sekadar perkara hari ini, tapi hari nanti. Bukan sekadar kita berdua, ini tentang hal besar yang ada di masing-masing dari kita.

Dari berbagai hal yang kudapati entah dari bacaan atau nasihat yang kuolah dari perkataan, kita membeli seseorang karena potensi yang ada di dalam diri mereka. Jujur saja, aku belum mampu benar melihat secara jelas potensi yang ada di dalam dirimu, namun bahkan dengan titik itu saja, aku telah terbeli olehmu.

Semoga saja, semoga saja aku tidak terbeli oleh kecantikan, atau kecerdasanmu, atau tingkah lakumu kala berhadapan dengan orang yang lebih tua dari dirimu, atau pola asuhmu pada anak-anak kecil yang terpaut usia cukup jauh darimu, atau dari caramu berjalan, atau dari caramu mengkombinasikan warna pakaian, ya, apapun itu, semoga saja bukan karena apa-apa yang telah tampak dihadapanku, sebab aku yakin jika itu yang sesungguhnya terjadi, tentu sekarang aku berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, sebab ya, jika itu kenyataannya, maka sungguh aku hanyalah seorang yang telah tertipu oleh apa yang tampak semata.

Ada yang bilang bahwa laki-laki memang tidak akan pernah mampu mengolah perasaan mereka sepenuhnya menjadi kalimat sederhana, tanyakan saja apa alasan ayah kita mencintai ibu kita, jawabannya tentu tidak akan pernah kita duga, laki-laki kabarnya memang begitu, berusaha mengekspresikan perasaannya lewat tindakan, sebab baginya cinta dan setia adalah kata kerja, tenaga yang membuatnya sanggup menjalani pagi hari yang bising dan penuh sesak ditengah himpitan kota untuk sekadar mengais rezeki bagi orang-orang yang mereka cinta, pulang tengah-tengah malam dan mampu bernafas lega saat membuka pintu dan ditenggoknya anak serta istri menunggu dengan setia di dalam rumah mereka yang sederhana.

Aku ingin menjadi laki-laki yang sedikit berbeda sebetulnya, toh apa salahnya jika tiap pagi aku ucapkan cinta?  padamu, pada anak-anak kita?

apa sulitnya sembari mengantarkan tidur anak-anak kita aku hadir dan sekadar bertanya bagaimana hari ini mereka jalani?  membagi cerita tentang apa yang juga kuhadapi?  monster berbentuk asap polusi, godaan berupa tahu tempe goreng yang kurang sehat?  bos atau bawahan yang mungkin hari itu membuat dinamika di tempat kerja?

***

aku hanya ingin mengatakan, sekalipun hari ini kenyamanan yang berhasil ada diantara kita sulit kutemukan penggantinya, tapi ada baiknya bagi kita untuk tetap saling menjaga. menjaga apa yang memang pantas dijaga dari masing-masing kita, sebab bukan rahasia bahwa cinta memiliki formula yang tidak bisa diduga, hari ini dan esok pagi mungkin cinta bisa mendominasi, tapi siapa yang menjamin lusa malam, minggu depan, kita masih memiliki porsi cinta yang sama?  dan siapa juga yang berani dengan mudah menyimpulkan bahwa kenyamanan yang kita temukan hari ini adalah cinta?

maka biarlah kepekaan ini tetap berada pada posisi yang sama, sebab jauh lebih baik bagi kita untuk tidak banyak menduga-duga, porsi kita adalah berusaha dan percaya pada rahasia indahNya.

karena dari awal kita tidak pernah benar-benar saling mengenali, tak ada salahnya untuk terus menjalani apa yang menurut kita memang menjadi apa yang kita sukai, sepanjang itu kita anggap baik dan membawa kebaikan, apapun itu, kelak ketika kita bertemu, tentu kita akan dengan mudah saling memahami dan menerima.

sebab aku tidak akan mau terbeli hanya karena apa yang terlihat oleh mata, sebaiknya akupun juga harus kembali menata apa yang hanya bisa dirasakan oleh hati,

sebab aku tidak ingin menjadi laki-laki yang kesulitan mengekspresikan perasaannya, aku akan terus berusaha untuk setidaknya menuangkan apa yang terjadi lewat kata-kata, maka terakhir, doakan aku untuk tetap bisa setia menuliskan, apapun, sebab akupun ingin agar kelak ketika aku berada dalam satu titik yang tidak lagi pernah sama, aku tetap bisa melihat siapa dan apa yang dulu pernah aku rasa.

dan kuharap kamupun melakukan hal yang sama, cinta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *